Selasa, 17 Agustus 2010

Banjir Besar Menghantui Negeri Ini

Peneliti banjir dari Fakultas Teknik UGM, Dr.ir. Agus Maryono mengingatkan, hingga 10 tahun ke depan Indonesia dihantui banjir besar. Banjir besar tersebut bisa banjir bandang maupun banjir lumpur. Pemicunya adalah terjadinya longsor tebing-tebing terjal sungai akibat gempa bumi. ''Banjir diinisiasi gempa,'' kata dia dalam perbincangan dengan Forum Wartawan UGM di UGM, Senin (7/12).

Agus menunjuk bukti bahwa gempa bumi mengisisiasi terjadinya longsor tebing, menyusul banjir besar. Banjir bandang Bahorok di Sumatera Utara pada 2003, banjir bandang di Acer 2005, banjir di Jember (Jawa Timur) 2006, banjir Bengawan Solo 2007.

Menurut dia, daerah paling rentan terjadinya banjir besar adalah daerah-daerah di sekitar tebing. ''Jika kondisi tebing labil, potensi longsor. Longsoran tebing akan menutup aliran sungai. Dan, tekanan air yang menumpul pada saatnya akan menjebol longsoran dan mengakibatkan banjir besar,'' jelasnya kemudian.

Agus Maryono mendapatkan penghargaan sebagai penulis artikel terbaik nasional ke-PU-an 2009 dalam rangka HUT ke-64 Departemen Pekerjaan Umum (DPU). Penyerahan penghargaan dilakukan oleh Menteri PU RI, Ir. Djoko Kirmanto, Kamis (3/12). Artikelnya yang berjudul ‘Banjir Beruntun dan Konservasi DAS Hulu’ yang dimuat di harian Media Indonesia edisi 19 Januari 2009 dinilai sebagai artikel terbaik nasional oleh dewan juri.

Dalam artikel itu, Agus menyebutkan banjir yang akhir-akhir ini melanda berbagai daerah pada umumnya masih dikendalikan dengan bermacam upaya konstruksi di bagian hilir lokasi banjir. Upaya tersebut memakan biaya sangat besar dan tidak menunjukkan hasil signifikan. Hal itu terjadi karena akar permasalahan yang sesungguhnya, yakni kerusakan daerah aliran sungai (DAS) di bagian hulu, tidak tersentuh.

Banjir beruntun dan meluap di mana-mana dapat menyadarkan pemerintah dan banyak kalangan untuk menggarap lebih intensif DAS bagian hulu secara serius dan komprehensif. “Kita terkonsentrasi menangani banjir daerah hilir, sementara konservasi DAS sangat lemah dengan adanya perubahan penggunaan lahan. Saatnya mengubah konsentrasi, bukan hilir,” kata dia.

Pengendalian banjir yang dapat dilakukan melalui pengelolaan daerah hulu terdiri atas reboisasi dan konservasi hutan, pengelolaan dan konservasi lahan pertanian-perkebunan, serta konservasi alur sungai, danau, dan embung, baik ukuran kecil maupun besar. Selain itu, tidak kalah penting adalah pengelolaan serta konservasi DAS di areal perdesaan.

”Keliru jika air dibuang ke hilir karena akan menyebabkan kesulitan air di musim kemarau. Konsepnya menahan air di hulu,'' kata dia bahwa untuk merealisasi langkah ini perlua adanya kemauan bersama pengambil kebijakan, kerja sama antara departemen dengan melibatkan seluruh masyarakat.

2020 Indonesia Bebas Emisi Karbon
Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan optimis bahwa pada 2020 Indonesia akan bebas dari emisi karbon. Target tersebut menurut menteri cukup realistis karena pemerintah telah melakukan upaya-upaya untuk itu berupa rehabilitasi kawasan hutan.

Pemerintah akan melakukan rehabilitasi 500 ribu hektar hutan, baik hutan kemasyarakatan, hutan desa, maupun hutan tanaman rakyat. “Targetnya, pada 2020 kita bisa bebas emisi karbon, apabila tercapai surplus penyerapan karbon 1,3 giga ton,” kata Zulkifli usai membuka seminar dalam rangka Dies Natalis ke-46 Fakultas Kehutanan UGM, Senin (7/12).

Hutan 500.000 hektar akan direhabilitasi bersama, termasuk di dalamnya hutan kemasyarakatan, hutan desa, dan hutan tanaman rakyat, dengan dibantu dana reboisasi yang mencapai 3 miliar rupiah per tahun. Selain itu, juga pada 500.000 hektar Hak Pengelolaan Hutan (HPH) dengan restorasi peran swasta nasional dan internasional. “Ditambah pula 400.000 hektar Hutan Tanaman Industri (HTI) yang merupakan lahan kritis kosong dan nantinya akan ditanami dengan peran bantuan pihak swasta,” jelas dia.

Usai membuka seminar “Hutan Kerakyatan Mengatasi Perubahan Iklim” menteri menanam pohon damar di depan kampus Program Pascasarjana Fakultas Kehutanan UGM. Penanaman pohon diikuti oleh jajaran eselon I Departemen Kehutanan, Rektor UGM yang diwakili Wakil Rektor Bidang Alumni dan Pengembangan Usaha, dan Direktur Perhutani.


Sumber :
http://www.beritanusantara.com/kehidupan/banjir-besar-menghantui-negeri-ini.html
8 Desember 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar