Selasa, 17 Agustus 2010

10 Akibat dan Dampak Negatif Banjir yang Utama


Dari berbagai macam jenis banjir, pada umumnya banjir memiliki berbagai akibat dan dampak negatif yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh bagi manusia.

1. Banjir dapat merusak sarana dan prasarana

Banjir dapat menghancurkan rumah, gedung, jembatan, jalan dan masih banyak lagi.

2. Banjir memutuskan jalur transportasi

Dampak paling umum dari banjir adalah memutuskan jalur transportasi darat. Akibat genangan air pada jalan yang cukup tinggi, motor, mobil atau bahkan truk puso / container tidak bisa melewati jalan tersebut. Selain motor dan mobil, lalu lintas kereta api pun dapat terganggu.

3. Banjir merusak dan bahkan menghilangkan peralatan, perlengkapan, harta benda lainnya atau bahkan jiwa manusia

Kerugian yang disebabkan banjir diantaranya adalah kerusakan benda, alat elektronik, mesin, surat-surat berharga (sertifikat, ijazah, dll), perlengkapan rumah tangga, rumah, gedung, dan yang paling berharga: jiwa manusia.

4. Banjir dapat mengakibatkan pemadaman listrik

Listrik sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Karena tingginya air / luapan banjir, listrik harus kita padamkan atau bahkan dipadamkan oleh pihak PLN. Bayangkan betapa terbatasnya aktifitas keseharian kita bila aliran listrik padam.

5. Banjir mengganggu aktivitas sehari-hari

Dengan adanya banjir, otomatis akan menganggu aktifitas sehari-hari. Sekolah terganggu, kerja terganggu, bersantai pun terganggu. Karena air banjir, semua aktifitas pun terganggu atau bahkan harus dihentikan untuk sementara waktu.

6. Banjir dapat mengganggu atau bahkan merusak perekonomian

Perekonomian terganggu karena banjir merendam sawah sehingga panen/ produksi padi terganggu, karena transportasi terputus bahan makanan yang diangkut oleh truk dapat membusuk atau mungkin membutuhkanbiaya tambahan karena harus mencari jalan alternatif walaupun lebih jauh, Produksi pabrik dihentikan sementara karena mesin produksi terendam air atau listrik dipadamkan sehingga mesin produksi tidak dapat dijalankan, dan masih banyak lagi sebab kerugian tidak berasal hanya dari rusaknya mesin tetapi juga bisa dari sisi terhambatnya / terganggunya produktifitas.

7. Banjir dapat mencemari lingkungan sekitar kita

Saat banjir datang tidak hanya air, tetapi juga membawa serta sampah, kotoran, limbah pabrik / kimia, minyak (oli, bensin, solar, minyak tanah, dsb), dan masih banyak lagi. Selain dapat mencemari sumber air bersih, banjir juga akan mengotori, halaman atau bahkan rumah kita sehingga menjadi tidak hiegienis.

8. Banjir dapat mendatangkan masalah / gangguan kesehatan (penyakit)

Banjir menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak bersih, sehingga nyamuk dan bibit kuman penyakit mudah berkembang biak. Selain itu umumnya makanan dan minuman yang sehat akan lebih susah ditemukan (terjadi kerawanan pangan) dan juga karena terlalu sering kena air maka dapat menyebabkan kondisi tubuh menurun.

9. Banjir dapat menyebabkan erosi atau bahkan longsor

Semakin deras air banjir, kemungkinan untuk mengiikis pinggiran aliran banjir akan semakin tinggi sehingga erosi atau bahkan longsor akan semakin mungkin terjadi.

10. Banjir dapat merubah, mengganggu, atau bahkan menghapus / menghilangkan masa depan

Bila banjir melanda cukup lama atau cukup besar, seiring dengan bertambahnya pengalaman disaat banjir, roda kehidupan juga bisa dapat berubah dengan drastis. Kehilangan pekerjaan, kehilangan mata pencaharian, hutang yang semakin menumpuk, kesehatan yang terganggu, atau bahkan kehilangan jiwa. Kesemuanya itu dapat merubah masa depan seseorang, keluarga atau bahkan masyarakat, baik secara langsung ataupun tidak langsung.


Sumber :
http://aimyaya.com/id/lingkungan-hidup/10-akibat-dan-dampak-negatif-banjir-yang-utama/
7 Juni 2010


Sumber Gambar:
http://www.kagakribet.com/ragam/banjir.jpg

Banjir Bukti Kegagalan Kolektif

Pepatah mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang paling berharga, namun pada kenyataannya pepatah tersebut tidak berlaku bagi “penghuni” Jakarta dan kota-kota sekitarnya. Penghuni Jakarta adalah seluruh stakeholder kota yang meliputi pemerintah pusat dan daerah, masyarakat dan swasta. Mengapa pengalaman banjir tiap tahun tidak menjadi guru yang paling berharga buat penghuni Jakarta?. Padahal banjir di Jakarta dari tahun ke tahun wilayahnya semakin meluas. Dampak kerugian materiil pun sangat besar, apalagi ditambah dengan dampak psikologis dan nyawa yang hilang. Luasnya daerah banjir tersebut bukan tidak mungkin akan menenggelamkan Jakarta dan sekitarnya suatu saat nanti. Tapi kenyataannya hal ini tetap belum mendapatkan perhatian yang memadai dari penghuni Jakarta. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, mungkin kedepannya kita semua harus mulai menyiapkan kendaraan alternatif lain seperti perahu karet atau perahu kecil pribadi, atau bahkan meyiapkan alternatif permukiman di atas air.

Pertanyaaannya apa yang menyebabkan kondisi seperti ini seolah-olah dibiarkan oleh penghuni Jakarta dan sekitarnya?. Bukannya mencari solusi bersama, yang terjadi adalah kita justru mencari kambing hitam. Masing-masing menyalahkan satu dengan lainnya. Bahkan juga sempat muncul isu perlunya memindahkan ibukota negara. Tulisan berikut mencoba untuk menelusuri penyebab banjir di Jakarta dan sekitarnya dengan melihat peran masing-masing aktor dan berharap dapat memberikan titik terang dari musibah ini sehingga masing-masing menyadari bahwa banjir di Jakarta bukan merupakan kesalahan perorangan, kelompok tertentu ataupun alam tapi lebih kepada kegagalan kolektif yang harus kita sadari bersama. Saat ini adalah waktunya untuk berhenti dari kebiasaan lari dari kenyataan serta saling menyalahkan, tetapi mencoba menghadapi persoalan bersama-sama.

PERMASALAHAN

Permasalahan banjir di Jakarta dan sekitarnya dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok utama. Pertama, sebagai akibat ulah manusia (man made) baik disadari atau tidak. Kedua, karena alam (nature).

Permasalahan banjir sebagai akibat ulah manusia

Kerusakan di Hulu yang dilakukan oleh manusia, disadari maupun tidak. Kerusakan yang dilakukan secara sadar meliputi pembangunan permukiman/bangunan dengan kepadatan dan/atau intensitas tinggi, seperti villa, hotel, resort; penggundulan hutan; pembukaan daerah hijau, dsb. Pembangunan yang kurang memperhatikan lingkungan tersebut menyebabkan penyempitan daerah aliran sungai dan berkurangnya daerah resapan air, yang pada akhirnya menimbulkan erosi, sedimentasi dan pendangkalan sungai. Hal tersebut juga berdampak pada meningkatnya run off dan berkurangnya kapasitas tampung sungai. Sedangkan kerusakan yang dilakukan secara tidak sadar biasanya terkait dengan kebiasaan (perilaku) antara lain kebiasaan membuang sampah sembarangan di sungai. Hal ini bisa jadi ditimbulkan oleh kurangnya pemahaman.

Ketidaksiapan di Hilir. Salah satu dampak besarnya urbanisasi ke Jakarta antara lain dapat dilihat dari banyaknya pembangunan permukiman di bantaran sungai dan daerah lain yang sebenarnya tidak diperuntukan bagi permukiman. Seperti yang terjadi di hulu, hal ini juga berdampak pada penyempitan dan pendangkalan sungai serta berkurangnya daerah resapan air. Di sisi lain pembangunan permukiman cenderung tidak didukung oleh infrastruktur yang memadai seperti penyediaan saluran drainase, sanitasi dan persampahan. Pembangunan yang tidak terkontrol dan kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan mengakibatkan meningkatnya run-off dan menurunnya kapasitas sungai. Kondisi ini diperparah oleh infrastruktur yang tidak memadai, sehingga menyebabkan banjir setiap tahun semakin parah.



Dari pembahasan singkat di atas terlihat bahwa permasalahan banjir ini sangat terkait dengan pengembangan wilayah, yaitu keterpaduan pembangunan dan pengelolaan di kawasan hulu dan hilir, serta lebih jauh lagi keterpaduan dengan pengembangan dan pengelolaan kawasan pesisir dan laut. Seperti diketahui banjir di kawasan utara DKI Jakarta juga dipengaruhi oleh pasang naik air laut yang lebih tinggi dari biasanya. Semua kegiatan sosial, ekonomi, lingkungan tersebut seharusnya diatur dalam penataan ruang terpadu (meliputi kawasan hulu, hilir, dan pesisir) yang bersifat multi stakeholder dan multi disipliner.

Alam

Kita tahu bahwa fenomena alam tidak bisa kita hindari termasuk juga fenomena alam yang menyebabkan terjadinya banjir seperti curah hujan yang tinggi, daya dukung alam yang terbatas, gelombang laut yang tinggi, air laut pasang pada tiap bulan purnama dan lain-lain. Berdasarkan pengalaman dan kemajuan teknologi, fenomena alam seperti ini dapat diprediksi. Namun demikian, seringkali yang terjadi adalah kita melakukan pembangunan tanpa mengindahkan fenomena alam ini. Tanda-tanda alam hanya menjadi faktor pelengkap dan belum dijadikan sebagai suatu landasan dalam membuat rencana pembangunan karena sering dikalahkan oleh kepentingan-kepentingan ekonomi. Ketidakmampuan–atau dalam beberapa hal ketidakmauan-melakukan pembangunan dengan menjaga kelestarian lingkungan pada akhirnya justru membahayakan keberlangsungan hidup dan menyebabkan kerugian ekonomi yang lebih besar. Intinya, seharusnya kita sadar bahwa bukan alam yang menyesuaikan diri dengan kita (manusia), tetapi kitalah yang harus bijak menyesuaikan diri dengan kondisi alam yang ada.

Peran Masing-masing Stakeholder

Kita harus berani mengakui bahwa permasalahan banjir ini timbul sebagai akibat kesalahan kolektif. Dengan mengakui kesalahan kita akan dapat masuk ke tahap selanjutnya, yaitu memperbaiki kesalahan tersebut. Dalam hal ini setiap stakeholder mempunyai perannya masing-masing. Beberapa peran tersebut dikemukakan di bawah ini:

Masyarakat• Masih rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan perannya masing-masing. Masyarakat perlu disadarkan bahwa mereka juga mempunyai peran dalam menimbulkan banjir. Misalnya adalah kebiasaan mereka membuang sampah sembarangan atau membangun rumah di bantaran sungai/kali.


Pengembang (Developer)• Dalam membangun perumahan, pengembang (developer) harus melakukannya secara bertanggung jawab, yaitu membangun di kawasan yang memang diperuntukkan bagi permukiman, sesuai dengan zoning regulation, dan dilengkapi dengan infrastruktur yang memadai dan terpadu dengan infrastruktur kota


Pemerintah Daerah• Ketidaksiapan Pemerintah DKI Jakarta menjalankan fungsinya dalam membangun Jakarta sebagai kota yang dapat memberikan kenyamanan bagi setiap warganya. Seringkali pembangunan dilakukan tanpa memperhatikan faktor lingkungan dan daya dukung alam. Hal ini antara lain terlihat dari banyaknya pembangunan yang dilakukan tidak sesuai dengan peruntukannya. Sementara itu pembangunan infrastruktur juga belum dapat mendukung aktivitas kota yang sangat tinggi serta melayani kebutuhan masyarakat.
• Masih kurangnya kerja sama antar daerah karena masih tingginya ego daerah. Dampak negatif dari otonomi daerah adalah Ketidaksiapan dan Ego kota-kota di sekitar DKI Jakarta dalam melakukan pembangunan sehingga melupakan perlunya keterpaduan pembangunan antar kota-kota.


Pemerintah Pusat
• Kebijakan Pemerintah Pusat terkait dengan pengembangan wilayah dimana DKI Jakarta difungsikan sebagai pusat semua aktifitas, sehingga terjadi ketimpangan pembangunan yang membuat kota-kota lain kurang berperan. Akibatnya urbanisasi di DKI Jakarta dan sekitarnya semakin tinggi. Urbanisasi ini menyebabkan munculnya pekerja-pekerja informal yang sebagian besar hanya mampu memenuhi kebutuhan perumahan informal yang umumnya terletak dilahan-lahan illegal seperti di bantaran sungai.
• Ego sektoral dari masing-masing Departemen atau Instansi yang terkait sehingga memperparah terjadinya banjir di Jakarta dan sekitarnya karena masing-masing bekerja berdasarkan kepentingan sektor sehingga melupakan pentingnya keterpaduan pembangunan.
• Lemahnya institusi BKTRN (Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional) membuat koordinasi dan kerja sama antar kota dan wilayah tidak jalan sebagaimana mestinya. Sehingga hal-hal yang terkait dengan pembangunan di kota-kota tidak bisa dikoordinasikan dengan baik, terutama dalam konteks pengembangan wilayah. Padahal masalah bencana alam dalam hal ini banjir tidak pernah mengenal batas-batas administrasi maupun sektoral.
• Belum efektifnya penggunaan RTRW sebagai landasan dalam melakukan pembangunan sehingga membuat celah terjadinya penyimpangan-penyimpangan pembangunan.
• Belum ditetapkannya Rencana Tata Ruang Pulau Jawa, dimana fokus rencana tata ruang tersebut adalah pada pengendalian bencana di Pulau Jawa termasuk didalamnya adalah bencana banjir.


BELAJAR DARI KESALAHAN

Dari permasalahan-permasalahan yang diungkapkan di atas kita harus sudah mulai belajar dari kesalahan artinya kita harus melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah yang harus dikerjakan dan bukan dibiarkan atau lari dari kenyataan ataupun dilupakan. Karena masalah yang dihadapi sangat besar dan melibatkan banyak fihak dan berdampak pada kerugian secara ekonomis maupun psikologis. Tentunya pemecahan masalah ini tidak bisa dikerjakan sendiri tapi dikerjakan bersama secara terpadu sesuai dengan perannya masing-masing.

Pekerjaan rumah yang harus segera dikerjakan dari peta masalah di atas adalah:• Pembangunan yang dilakukan oleh manusia (man made) harus sesuai dengan irama alam artinya harus bersahabat dengan alam
• Kebijakan pemerintah pusat dan daerah harus saling mendukung
• Jangan ada lagi ego sektoral dan ego daerah yang dapat membuat tersendatnya penyelesaian masalah banjir
• Pemerintah pusat dan daerah harus siap menangani gejala alam seperti banjir yang datang secara regular tiap tahun
• Peran BKTRN perlu difungsikan kembali agar dapat menyelesaikan masalah terutama yang terkait dengan koordinasi,sinkronisasi dan keterpaduan pembangunan antar daerah
• Instrumen yang ada harus ditaati dan jangan dikalahkan oleh kepentingan-kepentingan ekonomi sesaat (jangka pendek), tetapi pembangunan harus disusun dalam kerangka jangka panjang.
• Masing-masing aktor harus menyadari dan menjalankan perannya
• Edukasi/sosialisasi terhadap semua stakeholder harus terus dilakukan untuk membangun kesadaran bersama tentang pentingnya kelestarian lingkungan


Pekerjaan rumah tersebut sepertinya sederhana tetapi kenyataannya sulit untuk dilaksanakan namun dengan adanya kejadian ini kita jangan lagi menyelesaikan masalah ini pada tataran wacana tapi harus ada aksi nyata dan duduk bersama untuk menyelesaikannya. Jadikanlah banjir ini sebagai pelajaran yang paling berharga bagi kita semua.


Jakarta, 9 Februari 2007

Kontributor
Gita C. Napitupulu dan Desyrijanti Azharie


Sumber :
http://urdi.org/news/banjir-bukti-kegagalan-kolektif.deo

Banjir Besar Menghantui Negeri Ini

Peneliti banjir dari Fakultas Teknik UGM, Dr.ir. Agus Maryono mengingatkan, hingga 10 tahun ke depan Indonesia dihantui banjir besar. Banjir besar tersebut bisa banjir bandang maupun banjir lumpur. Pemicunya adalah terjadinya longsor tebing-tebing terjal sungai akibat gempa bumi. ''Banjir diinisiasi gempa,'' kata dia dalam perbincangan dengan Forum Wartawan UGM di UGM, Senin (7/12).

Agus menunjuk bukti bahwa gempa bumi mengisisiasi terjadinya longsor tebing, menyusul banjir besar. Banjir bandang Bahorok di Sumatera Utara pada 2003, banjir bandang di Acer 2005, banjir di Jember (Jawa Timur) 2006, banjir Bengawan Solo 2007.

Menurut dia, daerah paling rentan terjadinya banjir besar adalah daerah-daerah di sekitar tebing. ''Jika kondisi tebing labil, potensi longsor. Longsoran tebing akan menutup aliran sungai. Dan, tekanan air yang menumpul pada saatnya akan menjebol longsoran dan mengakibatkan banjir besar,'' jelasnya kemudian.

Agus Maryono mendapatkan penghargaan sebagai penulis artikel terbaik nasional ke-PU-an 2009 dalam rangka HUT ke-64 Departemen Pekerjaan Umum (DPU). Penyerahan penghargaan dilakukan oleh Menteri PU RI, Ir. Djoko Kirmanto, Kamis (3/12). Artikelnya yang berjudul ‘Banjir Beruntun dan Konservasi DAS Hulu’ yang dimuat di harian Media Indonesia edisi 19 Januari 2009 dinilai sebagai artikel terbaik nasional oleh dewan juri.

Dalam artikel itu, Agus menyebutkan banjir yang akhir-akhir ini melanda berbagai daerah pada umumnya masih dikendalikan dengan bermacam upaya konstruksi di bagian hilir lokasi banjir. Upaya tersebut memakan biaya sangat besar dan tidak menunjukkan hasil signifikan. Hal itu terjadi karena akar permasalahan yang sesungguhnya, yakni kerusakan daerah aliran sungai (DAS) di bagian hulu, tidak tersentuh.

Banjir beruntun dan meluap di mana-mana dapat menyadarkan pemerintah dan banyak kalangan untuk menggarap lebih intensif DAS bagian hulu secara serius dan komprehensif. “Kita terkonsentrasi menangani banjir daerah hilir, sementara konservasi DAS sangat lemah dengan adanya perubahan penggunaan lahan. Saatnya mengubah konsentrasi, bukan hilir,” kata dia.

Pengendalian banjir yang dapat dilakukan melalui pengelolaan daerah hulu terdiri atas reboisasi dan konservasi hutan, pengelolaan dan konservasi lahan pertanian-perkebunan, serta konservasi alur sungai, danau, dan embung, baik ukuran kecil maupun besar. Selain itu, tidak kalah penting adalah pengelolaan serta konservasi DAS di areal perdesaan.

”Keliru jika air dibuang ke hilir karena akan menyebabkan kesulitan air di musim kemarau. Konsepnya menahan air di hulu,'' kata dia bahwa untuk merealisasi langkah ini perlua adanya kemauan bersama pengambil kebijakan, kerja sama antara departemen dengan melibatkan seluruh masyarakat.

2020 Indonesia Bebas Emisi Karbon
Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan optimis bahwa pada 2020 Indonesia akan bebas dari emisi karbon. Target tersebut menurut menteri cukup realistis karena pemerintah telah melakukan upaya-upaya untuk itu berupa rehabilitasi kawasan hutan.

Pemerintah akan melakukan rehabilitasi 500 ribu hektar hutan, baik hutan kemasyarakatan, hutan desa, maupun hutan tanaman rakyat. “Targetnya, pada 2020 kita bisa bebas emisi karbon, apabila tercapai surplus penyerapan karbon 1,3 giga ton,” kata Zulkifli usai membuka seminar dalam rangka Dies Natalis ke-46 Fakultas Kehutanan UGM, Senin (7/12).

Hutan 500.000 hektar akan direhabilitasi bersama, termasuk di dalamnya hutan kemasyarakatan, hutan desa, dan hutan tanaman rakyat, dengan dibantu dana reboisasi yang mencapai 3 miliar rupiah per tahun. Selain itu, juga pada 500.000 hektar Hak Pengelolaan Hutan (HPH) dengan restorasi peran swasta nasional dan internasional. “Ditambah pula 400.000 hektar Hutan Tanaman Industri (HTI) yang merupakan lahan kritis kosong dan nantinya akan ditanami dengan peran bantuan pihak swasta,” jelas dia.

Usai membuka seminar “Hutan Kerakyatan Mengatasi Perubahan Iklim” menteri menanam pohon damar di depan kampus Program Pascasarjana Fakultas Kehutanan UGM. Penanaman pohon diikuti oleh jajaran eselon I Departemen Kehutanan, Rektor UGM yang diwakili Wakil Rektor Bidang Alumni dan Pengembangan Usaha, dan Direktur Perhutani.


Sumber :
http://www.beritanusantara.com/kehidupan/banjir-besar-menghantui-negeri-ini.html
8 Desember 2009

Definisi Banjir

Musim hujan tiba. Agar kita waspada terhadap banjir, maka kita perlu mengetahui definisi banjir. Yaitu:

Banjir adalah keadaan terlalu banyak air di sebuah lokasi.

Apa yang menyebabkan banjir?

Sejumlah faktor dapat menyebabkan banjir, meliputi:
hujan deras, terus menerus dalam beberapa hari
permukaan tanah tidak dapat menyerap air, karena jenuh atau karena diplester.
debit air sungai yang tinggi karena hujan terus menerus
permukaan tanah yang lebih rendah dari daerah sekitarnya, di mana tidak terdapat saluran-saluran pembuangan air yang berfungsi untuk memindahkan air ke lokasi lain menyeberangi daerah sekitarnya yang lebih tinggi
permukaan tanah yang lebih rendah dari permukaan laut yang sedang pasang


Terdapat dua jenis banjir, yaitu:

1. Banjir biasa di mana permukaan air secara perlahan naik;

2. Banjir bandang, yakni banjir yang datang secara cepat menyapu sebuah area. Banjir bandang lebih berbahaya, karena datangnya tiba-tiba dengan kecepatan yang dapat menghancurkan. Banjir bandang dapat disebabkan hujan sangat deras yang terjadi di hulu sungai, atau bendungan yang jebol. Tsunami adalah banjir bandang yang datangnya dari laut yang disebabkan oleh gempa.

Waspadalah akan datangnya banjir, apabila:

1. terjadi hujan terus menerus dalam beberapa hari,
2. anda tinggal di wilayah, di mana tidak terdapat cukup daerah resapan air, seperti di kota, di daerah sekitar hutan gundul,
3. sungai di daerah anda menunjukkan debit air yang bertambah tinggi,
4. anda tinggal di daerah rawan banjir, yakni daerah anda memiliki ketinggian lebih rendah dari daerah sekitarnya,
5. selokan-selokan atau parit-parit di daerah anda tidak berfungsi karena dipenuhi sampah yang menghambat aliran air


Waspadalah akan datangnya banjir bandang, apabila:

1. terjadi hujan deras terus menerus di daerah hulu, atau
2. terdapat bendungan yang jebol di daerah hulu, atau
3. terjadi hujan deras di daerah pembalakan hutan


Waspadalah akan datangnya tsunami, apabila:

terjadi gempa bumi di lautan, dengan skala gempa di atas 6.5 SR.


Link berguna dalam mengatasi banjir:

Cara Efektif Mengatasi Banjir
Cerita Rakyat Mengatasi Banjir
Peta Daerah Rawan Banjir Jakarta
Cara Menghadapi Banjir

Jika terjadi banjir, silakan hubungi:

FLOOD CRISIS CENTER:
dengan layanan 24 jam dapat dihubungi untuk memperoleh informasi :
mengenai tingkat air dan daerah banjir di (021) 382-2011,
Posko Banjir di 382-2156; 5696-3520; 722-0070; 4393-1052); 819-6945, dan
Kantor Pekerjaan Umum 384 3250.

Mudah-mudahan ada yang mengangkat telepon.


Sumber :
http://www.lentera.web.id/2006/11/07/definisi-banjir/

Banjir dalam Perspektif Sains dan Alquran

Dalam 100 tahun, potensi genangan banjir di lembah Cikapundung bisa mencapai Jalan Cihampelas dan Tamansari. Artinya, ribuan penduduk yang tinggal di kawasan Pelesiran dan Taman Hewan terancam habis tersapu banjir.

Ancaman banjir di Cekungan Bandung memang bukan main-main. Hal ini terungkap dalam diskusi bertajuk “Banjir dalam Perspektif Alquran dan Sains” pada Sabtu, 13 Februari 2010 di Ruang GSS E Salman ITB. Diskusi yang diselenggarakan LPI Salman ITB ini menghadirkan narasumber Dr. Agung Wiyono (dosen Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, KK Water Engineering Research Division) dan Ust. Abu Yahya Purwanto, S.Si (pengkaji tafsir).

Hadir sebagai penanggap dalam diskusi ini: Prof.Dr. T. Djamaluddin (peneliti cuaca dan matahari LAPAN Bandung), Dr. Moedji Raharto (dosen Program Studi Astronomi FMIPA ITB), Ir. Hasan (peneliti BATAN Bandung), dan Drs. Johansyah (Wakil Sekretaris YPM Salman ITB).

Penyebab banjir

Selain mengungkapkan ancaman bahaya banjir, Dr. Agung juga memaparkan penyebab terjadinya banjir. Banjir pada hakekatnya terjadi karena perubahan karakteristik Daerah Aliran Sungai (DAS) di hulu dan maupun di hilir.

Perubahan utama di hulu adalah berkurangnya luas tutupan lahan (land covering) akibat perubahan fungsi lahan. Lahan yang semula hutan, ditebang untuk dijadikan permukiman, area wisata, industri, dan lain-lain. Perubahan lain adalah meningkatnya curah hujan. Perubahan ini sifatnya cenderung alami dan tidak bisa dikontrol oleh manusia.

Di daerah hilir, perubahan yang meningkatkan potensi banjir adalah pendangkalan sungai dan atau penyempitan lebar sungai. Pendangkalan sungai terjadi karena sedimentasi, yang meskipun alami, diperkuat intensitasnya oleh hilangnya land covering di hulu. Adapun penyempitan lebar sungai, selain karena sedimentasi, kini semakin sering terjadi akibat penggunaan bantaran sungai untuk permukiman.

Perubahan karakteristik DAS akan sangat menyulitkan pengelolaan limpahan air. Saluran drainase, tanggul, penyodetan aliran sungai, dan teknik-teknik lain, selalu dirancang dengan asumsi tertentu. Asumsi ini menggunakan parameter karakteristik DAS. Jika karakteristik DAS-nya berubah, tentu saja asumsinya akan berantakan. Ujung-ujungnya, semua teknik di atas akan sia-sia.

Penanggulangan banjir

Menurut Dr. Agung, penanggulangan banjir pada dasarnya melewati beberapa tahap. Kegiatan pertama adalah pengambilan foto udara. Kegiatan ini bertujuan menentukan kawasan DAS mana atau bagian mana dari sebuah DAS yang terancam banjir. Foto udara dilanjutkan dengan survei topografi dan penyelidikan karakteristik tanah.

Data dari kedua survei tersebut, plus data curah hujan, menjadi input untuk pembuatan model tanggul. Model tanggul biasanya dikerjakan lewat simulasi komputer. Setelah parameter-parameter fisik dan ukuran model tanggul dianggap mampu memenuhi kebutuhan limpahan air, model tersebut pun dibangun dalam ukuran tanggul yang sebenarnya.

Dalam rangkaian penanggulangan banjir tersebut, tahap yang paling mahal adalah pengambilan foto udara. Karena mahalnya, seringkali sulit meyakinkan pemerintah daerah untuk melakukannya. Kesulitan ini juga terjadi di Jabar. Akibatnya, “Kita tidak punya foto udara yang up to date untuk Cekungan Bandung,” keluh Agung.

Pertimbangan politik anggaran memang seringkali menjadi penghambat. Bahkan, di DKI Jakarta sekali pun, tutur Dr. Agung, pengajuan anggaran penanggulangan banjir dari Dinas PU setempat selalu mentok di Departemen Keuangan.

Hambatan lain yang tidak kalah besarnya adalah kebocoran anggaran. “Proyek penanganan banjir kebanyakan berakhir dengan korupsi,” tukas Dr. Agung.

Pencegahan banjir

Dengan adanya hambatan-hambatan di atas, sebenarnya langkah yang lebih tepat sekaligus strategis adalah pencegahan banjir. Menurut Dr. Agung, konsep penanganan air permukaan, khususnya di kota-kota besar, sangat keliru. “Bukan mengalirkan air sebanyak-banyaknya. Seharusnya menampung air sebanyak-banyaknya,” ujar Agung. Pandangan Agung diamini Prof. T. Djamaluddin, “Orang sekarang cenderung melihat air hujan sebagai limbah.”

Oleh karena itu, Agung mengusulkan konsep eco drainage yang dimulai dari kawasan permukiman. Konsep yang sudah populer di Eropa, khususnya Jerman ini, sebenarnya cukup mudah diimplementasikan. Inti konsep ini adalah menyimpan limpahan air sebanyak-banyaknya, dan menahannya agar mengalir secara bertahap, tidak sekaligus.

Misalkan satu rumah menyiapkan drum penampungan untuk 1 hingga 5 kubik air. Maka dengan 1000 rumah saja akan dapat ditampung 5.000 kubik air. Jumlah ini menurut Dr. Agung akan sangat berarti dalam menahan limpahan air. Belum lagi jika ditambah kolam penampungan di setiap RW atau kompleks.

Jika air masih melimpah juga, penahan berikutnya adalah saluran-saluran got di tepi jaringan jalan kompleks. Saluran ini bertindak sebagai saluran tersier sebelum masuk ke saluran sekunder di tepi-tepi jalan raya. Terakhir, barulah limpahan air dari saluran sekunder diterima oleh saluran primer berupa kanal banjir atau sungai besar seperti Cikapundung.

Dalam skema seperti ini, air hujan yang ditampung bukan saja mencegah banjir. Air tampungan juga bermanfaat untuk mengisi kembali (re-charge) reservoir air tanah di bawah permukaan. Sehingga, pada musim kemarau warga tidak akan kekurangan air.

Sayangnya, warga masyarakat dan pemerintah lebih senang membiarkan air hujan mengalir secepat-cepatnya ke sungai (saluran primer). Akibatnya, bukan saja sungai segera meluap, jalan raya pun berubah menjadi “sungai” kecil.

Pencegahan banjir dengan konsep eco drainage juga meniscayakan keberadaan dan berfungsinya saluran-saluran tersier, sekunder hingga primer di perkotaan. Diperlukan kebijakan dan aturan penataan lahan yang jelas serta pengembalian fungsi lahan-lahan yang semula adalah saluran air.

Salah satu contoh lahan yang perlu dikembalikan fungsinya sebagai saluran sekunder adalah bantaran Sungai Cikapundung. Tentu saja diperlukan ketegasan dan keberanian pemerintah untuk melakukan hal ini. Selain itu, pemerintah pun perlu menyiapkan solusi sebelum merelokasi warga di sana. Perumusan solusi tersebut menurut Agung, seyogyanya dibantu oleh ITB sebagai perguruan tinggi terdekat dengan kawasan tersebut.

Terkait perubahan persepsi masyarakat, langkah yang tidak kalah pentingnya adalah sosialisasi konsep eco drainage ini. Dalam pandangan Ust. Abu Yahya Purwanto, sosialisasi kepada masyarakat hendaknya lebih menonjolkan manfaat konsep yang disodorkan. Perlu diangkat contoh-contoh keberhasilan penerapan konsep ini. Seperti yang diungkapkan Drs. Johansyah, “Seorang kawan saya punya sumur resapan diameter 3 m dengan kedalaman 4 m. Dua hari dua malam hujan pun rumahnya tidak pernah kebanjiran.” Johansyah menambahkan, para pakar dalam bidang tata air juga perlu lebih sering menulis ke media massa.

Banjir sebagai sarana introspeksi

Banjir sudah umum dipahami sebagai sebuah musibah. Dalam paparan Ustadz Purwanto, di satu sisi musibah adalah ujian untuk menaikkan derajat seorang mukmin, sekaligus menghapuskan dosa-dosanya. Namun, menurut Ust. Purwanto, orang jarang menyadari bahwa keburukan yang menyertai musibah datangnya dari manusia juga. Pengubahan tata lahan secara semena-mena, kesembronoan dalam menangani limpahan air, tidak bersyukur atas limpahan air hujan, semua itu adalah perbuatan yang dipilih oleh manusia sendiri.

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." [Q.S. 30:41]

Musibah datang untuk menyadarkan kita, mengajak kita berintrospeksi, merenungi kekeliruan-kekeliruan perbuatan-perbuatan kita.

Selepas banjir surut, sudah sepantasnya kita kembali mensyukuri karunia air dari Allah SWT, dengan menata dan memanfaatkannya sebaik-baiknya. Kelanjutan dari syukur menurut Ust. Purwanto adalah menyebarkan ihsan. Ihsan adalah mengerahkan seluruh usaha kita dalam mengerjakan sesuatu secara sempurna. Ihsan harus dilandasi ikhlas, yaitu takut dan harap hanya kepada Allah SWT. Kedua hal inilah seharusnya, yang mendasari gerak kita dalam mengatasi permasalahan banjir.


Sumber :
Salim Rusli
http://salmanitb.com/2010/03/banjir-dalam-perspektif-sains-dan-alquran/
13 Maret 2010

Tanggap Darurat Siaga Bencana Banjir

DKI Jakarta dalam pergantian tahun 2009 ke tahun 2010 akan diiringi dengan bencana banjir seperti terjadi pada tahun sebelumnya. WALHI Jakarta memperkirakan puncak banjir terjadi di bulan Januari 2010 dengan perluasan, ketinggian maupun besaran dampaknya melebihi banjir tahun sebelumnya, karena banjir tidak hanya bersumber dari curah hujan yang tinggi dan kiriman dari selatan Jakarta, tetapi juga berasal dari pasangnya air laut (rob).

Banjir di Jakarta akan terus terjadi karena negara telah salah urus dalam mengelola sumber daya dan ruang (penataan kota). Sejak awal pembangunan di Jakarta telah menyimpang seperti misalnya mesterplan 1965-1985 yang menetapkan daerah timur Jakarta termasuk Kelapa Gading dan barat Jakarta termasuk wilayah Angke masuk dalam lahan hijau. Tetapi pada rencana induk 1985-2005 peruntukan lahan hijau tersebut tidak ada lagi. Setidaknya ada 4 faktor penyebab banjir di Ibu Kota Indonesia ini, yaitu:

Pertama, Alih fungsi lahan dan hutan yang tak terkendali adalah factor utama, dimana DKI Jakarta dengan luas lahan sekitar 661,52 km2 hanya menyisakan lahan terbuka atau ruang terbuka hijau (green open space) 9,6%, sisanya adalah bangunan padat. Padahal seperti yang diamanatkan dalam Undang-Undang No 26 tahun 2007 tentang tata ruang dan wilayah Pemprov DKI Jakarta wajib memenuhi 30% ruang terbuka hijau (RTH).

Kedua, karena akibat penurunan tanah yang menyebabkan banjir atau genangan air semakin luas karena kini sedikitnya 40% lahan di Jakarta berada di bawah permukaan laut. Secara umum Jakarta mengalami penurunan tanah atau amblas 5-20 cm per tahun (ITB-Global Positioning System). Penurunan permukaan tanah tersebut disebabkan oleh adanya penyedotan air dalam skala besar dan banyaknya penambahan gedung dengan tidak adanya serapan air.

Ketiga, Pemberian IMB yang tidak mempertimbangkan keseimbangan ekologis.

Sementara factor keempat, Buruknya system drainase dan sungai yang tidak berfungsi dengan baik, karena selain sampah yang menyumbat, keberadaan jaringan utilitas juga menjadi penyebab macetnya saluran air sehingga menjadi penyebab banjir di jalan-jalan utama Jakarta saat hujan deras tiba seperti beberapa hari yang lalu terjadi di jalan Agus Salim dan Jaksa.

Menurut Bagian Informasi Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), M. Ali mas’at mengungkapkan, potensi hujan di wilayah Jakarta masih akan terjadi beberapa hari ke depan, dan sejumlah wilayah di Bodetabek sudah memasuki musim hujan dengan intentitas sedang dan ringan. BMKG juga memperkirakan puncak hujan dan bencana banjir pada musim ini terjadi pada bulan Januari-Februari 2010. Atas kondisi lingkungan Kota Jakarta tersebut, bencana banjir akan lebih besar dampaknya dari banjir tahun 2009. Hal ini terlihat dalam upaya antisipasi yang dilakukan pemprov DKI tidak juga penyentuh akar persoalan, separti tersebut diatas.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo pada 7 Oktober 2009 lalu, telah genap dua tahun memimpin Jakarta. Pengalaman 30 tahun lebih berada di pemprov DKI Jakarta dan bergelar seorang ahli tata kota, seharusnya dapat mengelola dan menata pembangunan di Jakarta menjadi lebih baik dengan mempertimbangkan keseimbangan ekosistem kota. Namun kenyataannya ditangan seorang gubernur yang memiliki kompetensi dan pengalaman selama puluhan tahun ditempat yang sama, ternyata tidak bisa menjamin Jakarta menjadi lebih baik terutama persoalan bencana banjir yang selalu menghantui masyarakat setiap tahun. Oleh karena itu sebelum bencana banjir kembali terjadi di Ibu kota ini, WALHI Jakarta mendesak kepada Gubernur Pemerintah Provinsi DKI Jakarta :

1. Stop peralihan lahan milik Negara menjadi milik pihak swasta, demi menjaga keutuhan ruang yang tersisa dan segera merevisi berbagai kebijakan yang tidak berpihak kepada keberlanjutan lingkungan hidup dan memicu tingkat bencana ekologi yang lebih tinggi di DKI Jakarta.

2. Lakukan reorientasi paradigma pembangunan yang mengutamakan pertumbuhan ekonomi berbasis konversi lahan menjadi pertumbuhan ekonomi yang berkulitas berbasis pengarusutamaan nilai tambah ekologis dan berkeadilan.

3. Segera lakukan audit lingkungan yang melibatkan pemberian IMB yang terindikasi melanggar hukum. Audit lingkungan memiliki dasar keputusan lingkungan hidup nomor 30 tahun 2001 tentang pedoman pelaksanaan audit lingkungan hidup. Sebagai catatan tim audit pernah dibentuk oleh KNLH, DPU, Dephut dan Pemprov DKI Jakarta pada tahun 2002 pasca banjir besar dengan tugas mengatur mekanisme pemberian izin pembangunan, tetapi keberadaan tim tersebut hingga kini tidak jelas.

4. Mengintegrasikan upaya penanggulangan bencana banjir secara keseluruhan, membuat strategi penanggulangan banjir jangka pendek, menengah, dan panjang, serta mempublikasikan kepada masyarakan keseluruhan terkait hasil evaluasi penanganan banjir ditahun-tahun sebelumnya.

5. Segera membuat dan mensosialisasikan sistem peringatan dini (early warning system), yang bisa diakses dan dikontrol oleh masyarakat luas, dan mengoptimalkan posko-posko penanganan banjir yang sampai kepada masyarakat. Memetakan seluruh kekuatan yang akan terlibat dalam kerja-kerja kemanusiaan dan sumberdaya termasuk logistik, memetakan lokasi bangunan-bangunan yang dapat dipakai untuk hunian sementara serta jalur-jalur evakuasi dan pendistribusian kebutuhan bagi korban.

5. Accountable dan transparan terkait pengalokasian dana penanggulangan banjir yang mencapai lebih dari 500 Miliar, sebab penggunaan anggaran kerap tidak diketahui peruntukk, untuk antisipasi, pada saat banjir ataukah untuk pemulihanan setelah banjir? (mengingat alokasi dana banjir 294 miliar tahun 2002, 1,6 trilyun pada 2006, dan 2,7 trilyun pada 2007 atau 30% dari APBD ). Selain itu juga segera mendistribusikan alokasi dana langsung ke masyarakat tingkat RT dan RW untuk memperbaiki system saluran air (drainase) disekitar lingkungan sendiri, terutama daerah yang terkena banjir dan berpotensi banjir maupun genangan, mengingat alokasi anggaran banjir 2010 sebesar 855 miliar.

7. Mengantisipasi terhadap kemungkinan bahaya robohnya pohon dan reklame akibat hujan atau badai angin serta memperbaiki situ-situ yang berpotensi longsor atau jebol.


Sumber :
http://www.walhi.or.id/in/kampanye/pengelolaan-bencana/146-siaran-pers/400-tanggap-darurat-siaga-bencana-banjir
18 November 2009

Kenapa Awal Tahun Ini Kita Panen Banjir?

Awal tahun ini diawali dengan panen banjir di sejumlah daerah pulau Jawa. Kenapa bisa begitu? Mari kita tilik apa penyebab banjir massal ini. Banjir yang terjadi di Solo, di Jakarta dan pantai-pantai itu berbeda mekanisme dan penyebabnya. Penanganannyapun tidak digebyah uyah semua sama. Kalau setiap ada banjir trus yang disalahin pembuangan sampah mungkin hanya berlaku untuk daerah-daerah tertentu. Tapi jelas kalau banjir di Solo bukan karena sekedar pembuangan sampah, walaupun meninggalkan sampah yang menggunung.

Banjir Jakarta

Hampir setiap awal tahun di Jakarta akan mengalami banjir, hal ini disebabkan oleh curah hujan tinggi dimana air sudah tidak mampu lagi dilewatkan oleh saluran-saluran air yang ada.

Banjir di Jakarta sangat mungkin disebabkan oleh aliran air permukaan (runoff). Daya serap tanah sudah pasti tidak akan mampu lagi menyerap air hujan lebat. Kemampuan saluran yang ada baik got, sungai maupun Saluran Banjir kanal tidak mampu menahan banjir bila hujan sangat deras. Penyebab tambahan adalah akibat kiriman dari Bogor memang ada tetapi sangat tidak dominan. Kalau memang daya serap air serta kemugkinan banjir kiriman, maka yang perlu dilakukan adalah memperbaiki saluran air lingkungan. Termasuk didalamnya Banjir Kanal Barat (BKB) dan Banjir Kanal Timur (BKT). Tetapi seperti yang dituliskan dalam tulisan sebelumnya bahwa apabila curah hujan sama seperti awal tahun 2007 kemarin, bahwa walaupun ada BKB dan BKT hanya mengurangi efek banjir, tetapi tidak mampu menghilangkan banjir di Jakarta.

Banjir Bengawan Solo dan Jawa Timur

Banjir Bengawan Solo hingga Jawa Timur ini kalau dirunut jelas disebabkan oleh ketidak-mampuan Bendungan Gajahmungkur untuk menampung air hujan yang sangat ekstrim tinggi selama beberapa hari. Perlu diingat bahwa curah hujan kemarin itu tidak hanya “menyerang” hulu Sungai Bengawan Solo saja tetapi juga sepanjang aliran anak-anak sungai Bengawan Solo.

Jebolnya tanggul-tanggul di sekitar Solo Baru jelas menunjukkan adanya keteledoran dalam perawatan tanggul selama ini. Tanpa mengurangi bagaimana susahnya Departemen PU mengelola, tetapi bisa disebut bahwa keteledoran ini mungkin juga karena krisis ekonomi. Krisis ekonomi sejak beberapa tahun lalu dapat menyebabkan prioritas perawatan DAS Bengawan Solo terabaikan. Ini bisa saja dianggap Dept PU telah kecolongan dalam hal ini.

Kalau untuk menangani banjir sungai Bengawan Solo salah satu yang mestinya dilakukan bukan sekedar memperbaiki tanggul saja, tetapi harus dikerjakan secara terpadu sejak dari hulu yaitu mulai Bendungan Gajahmungkur, sepanjang aliran sungai Bengawan Solo, termasuk anak-anak sungainya hingga muaranya di Ujung Pangkah, Gresik.

DAS Solo dan Brantas

Seandainya hujan yang terjadi beberapa minggu lalu itu merupakan awal musim hujan, maka masih perlu diantisipasi banjir-banjir yang mungkin akan terjadi lagi. Selain DAS (Daerah Aliran Sungai) Bengawan Solo, di Jawa Timur ini ada DAS besar lain yaitu DAS Brantas yang letaknya bedampingan. Sungai Brantas bermuara di dua tempat yaitu di Surabaya dan Porong. Kedua DAS ini sangat berpotensi banjir yang akan akan menelan korban maupun kerugian akibat curah hujan yang tinggi. Hal ini disebabkan karena sepanjang sungai ini sudah banyak sekali dimanfaatkan sebagai pemukiman yang padat.

Sungai Brantas yang bercabang ini salah satunya mengalir ke utara ke Surabaya. Dengan adanya bendungan pengatur di Mojokerto maka banjir sungai Brantas ke arah Surabaya yang lebih padat pemukiman dapat dihindarkan. Ada yang perlu diperhatikan saat ini karena adanya gelontoran Lumpur Lapindo di Sidoarjo yang dialirkan ke Kali Porong, tentu saja kapasitas aliran Sungai Porong harus dijaga jangan sampai kemampuannya mengalirkan air jauh menurun. Karena kalau terjadi aliran air cukup deras dari hulu Sungai Brantas yang ujungnya hingga di Malang ini kan sulit dikendalikan lagi.

Banjir Pantai Selatan dan Pantai Utara

Banjir di beberapa lokasi di sepanjang pantai-pantai Sumatra dan Jawa yang terjadi bersamaan bulannya dengan banjir di Bengawan Solo merupakan banjir yang berbeda. Banjir pantai ini diperkirakan karena adanya gelombang pasang naik.

Ketinggian air banjir di pantai-pantai ini berkisar antara 3-5 meter. Banjir air laut ini arahnya tidak seperti banjir sungai, air laut justru yang bergerak kedaratan. Tentunya kecepatannya bisa saja cukup deras terutama bila bentuk pantainya seperti corong yang mengumpulkan air secara cepat ketika air pasang sedang meninggi.

Banjir pasang ini akan selalu berulang pada saat perigee (posisi bulan terdekat dengan bumi). Dengan demikian kapan akan hadirnya pasang naik ini semestinya dapat diprediksi dengan lebih mudah. Namun kalau waktu-waktu ini bersamaan dengan musim penghujan, maka problem yang dihadapi juga akan semakin kompleks seperti banjir di Jakarta awal tahun 2007 lalu.

Untuk tahun 2008 kemungkinan perigee akan terjadi pada tanggal-tanggal dibawah ini :

* 19–22 Januari 2008
* 8–11 Maret 2008
* 6–8 April 2008
* 5–6 Mei 2008
* 3–4 Juni 2008
* 2–3 Juli 2008
* 15–17 Oktober 2008
* 13–14 November 2008
* 12–13 Desember 2008

Tidak mudah mengatasi banjir pasang ini karena yang diperlukan adalah barrier (tanggul yang cukup lebar untuk mencegah air laut masuk kedaratan. Tanggul yang diperlukan sepanjang pantai ini selain menahan gelombang pasang juga pada saat-saat tertentu juga menahan gelombang-gelombang pantai. Selain diperlukan tanggul juga diperlukan pemecah ombak atau wave-breaker.

Diedit seperlunya dari http://rovicky.wordpress.com


Sumber :
Rovicky Putrohari
http://netsains.com/2008/01/kenapa-awal-tahun-ini-kita-panen-banjir/
21 Januari 2008